Tata Cara Penutupan Asuransi Syariah

Tata Cara Penutupan Asuransi Syariah

Kami sangat menyadari bahwa pelayanan yang baik terjadi apabila seluruh pihak yang terlibat memahami tata cara penyelenggaraannya dan memiliki kemampuan dalam memberikan pelayanan optimal kepada nasabah atau Pemegang Polis.

Secara umum tata cara penutupan perlindungan asuransi syariah di PT Asuransi Jiwa Syariah AL AMIN adalah sebagai berikut:

  1. Pertemuan untuk menjajaki kebutuhan dan keinginan dari Pemegang Polis.
  2. Penyampaian informasi profil risiko dan data Peserta Yang Diasuransikan.
  3. Rancangan produk asuransi syariah dan perhitungan kontribusi.
  4. Penetapan ketentuan seleksi risiko dan tarip Kontribusi.
  5. Presentasi (jika diperlukan).
  6. Penandatanganan Surat Permohonan Asuransi Jiwa (SPAJ) Syariah.
  7. Penerbitan Polis.
  8. Penyampaian data kepesertaan.
  9. Penyampaian akseptasi kepesertaan dan nota tagihan pembayaran kontribusi.
  10. Pelayanan dan pembayaran manfaat asuransi syariah.
  11. Evaluasi pelaksanaan Polis atau kerjasama asuransi syariah.
  12. Perpanjangan Polis.

Tata Cara Pengajuan Manfaat Asuransi Syariah

Pembayaran Santunan Asuransi Syariah atau Santunan Asuransi Syariah Tambahan dibayarkan selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak pengajuan santunan disetujui oleh PT Asuransi Jiwa Syariah AL AMIN. Permintaan pembayaran Santunan atas Manfaat Asuransi Syariah wajib disampaikan kepada Perusahaan secara lengkap dan benar;

  1. Untuk semua permintaan pembayaran santunan dilengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut:
    1. Surat permohonan permintaan pembayaran santunan yang ditandatangani Penerima Manfaat;
    2. Formulir pengajuan Manfaat Asuransi Syariah yang telah diisi lengkap dan ditandatangani Pemegang Polis dan/atau Penerima Manfaat;
    3. Foto kopi identitas (KTP/SIM/Paspor) Peserta Yang Diasuransikan dan ahli waris yang masih berlaku.
  2. Pengajuan permintaan pembayaran Santunan Asuransi Syariah untuk risiko meninggal dunia dilengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut;
    1. Meninggal dunia alami (Natural Death):
      1. Dokumen-dokumen sebagaimana butir 1 diatas;
      2. Surat Keterangan Kematian dari Pemerintah Daerah setempat;
      3. Surat Keterangan dari Rumah Sakit (apabila meninggal di rumah sakit);
      4. Foto Kopi Kartu Keluarga;
      5. Surat Keterangan penguburan (jika dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum);
      6. Surat Keterangan Ahli Waris yang dilegalisir oleh Pemerintah setempat;
      7. Surat Kuasa pengurusan Santunan Asuransi Syariah dari ahli waris (jika diwakilkan);
      8. Surat Keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat (apabila meninggal di luar wilayah Republik Indonesia).
    2. Meninggal dunia akibat kecelakaan:
      1. Dokumen-dokumen sebagaimana butir 1 diatas;
      2. Surat Keterangan Kematian dari Pemerintah Daerah setempat;
      3. Foto Kopi Kartu Keluarga;
      4. Surat Keterangan Ahli Waris yang dilegalisir oleh Pemerintah setempat;
      5. Surat Kuasa pengurusan Santunan Asuransi Syariah dari ahli waris (jika diwakilkan);
      6. Surat Keterangan Kecelakaan dari Kepolisian;
      7. Putusan Pengadilan yang menyatakan Peserta meninggal dunia, apabila Peserta hilang dalam suatu musibah;
      8. Surat Keterangan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat (apabila meninggal di luar wilayah Republik Indonesia).
  3. Pengajuan permintaan pembayaran Santunan Asuransi Syariah Tambahan untuk risiko Cacat Tetap atau manfaat penggantian biaya rawat inap atau pengobatan dilengkapi dokumen-dokumen sebagai berikut:
    1. Santunan Cacat Tetap akibat kecelakaan:
      1. Dokumen-dokumen sebagaimana butir 1 diatas;
      2. Surat Keterangan Kecelakaan dari Kepolisian;
      3. Surat Keterangan medis dari dokter yang menyatakan cacat tetap atau hilangnya fungsi tubuh secara permanen.
      4. Foto kopi semua tagihan dan kuitansi lengkap biaya pengobatan yang dilegalisir.
    2. Santunan Penggantian Biaya Pengobatan akibat kecelakaan:
      1. Dokumen-dokumen sebagaimana butir 1 diatas;
      2. Surat Keterangan Kecelakaan dari Kepolisian;
      3. Surat Keterangan medis dari dokter atau rumah sakit;
      4. Fotokopi semua tagihan dan kuitansi lengkap biaya pengobatan yang dilegalisir.
    3. Santunan Penggantian Biaya Rawat Inap:
      1. Dokumen-dokumen sebagaimana butir 1 diatas;
      2. Surat keterangan Kecelakaan dari Kepolisian (apabila perawatan akibat kecelakaan);
      3. Surat Keterangan keluar rumah sakit sehubungan dengan rawat inap Peserta termasuk tanggal dimulainya kejadian yang menyebabkan rawat inap tersebut;
      4. Fotokopi semua tagihan dan kuitansi lengkap biaya rawat inap yang dilegalisir;
      5. Fotokopi semua hasil pemeriksaan laboratorium, copy resep atau obat-obatan dan Surat Keterangan medis dari dokter.

Surat Keterangan atau dokumen lainnya yang dianggap perlu akan ditetapkan kemudian berdasarkan kesepakatan Para Pihak.