Ketua Bidang Riset & Inovasi Produk Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Ronny Ahmad Iskandar mengungkapkan, bahwa industri asuransi syariah, baik dalam asuransi umum maupun jiwa, mengalami pertumbuhan positif. Menurutnya, hingga September 2023, baik asuransi jiwa maupun umum mengalami kenaikan, meskipun ada kekhawatiran terkait potensi pandemi baru. Ia menyatakan bahwa asuransi jiwa syariah tumbuh meskipun tidak signifikan, sementara asuransi umum syariah tumbuh secara bagus, didorong oleh pemulihan ekonomi di Indonesia pada kuartal II. Namun, ada dampak negatif terkait isu politik yang mempengaruhi kontraksi kontribusi bruto dan klaim bruto.
Proyeksi pertumbuhan asuransi syariah hingga akhir 2023 dan awal 2024 menurut Ronny didasarkan pada analisis data dari 2017 hingga September 2023. Hasilnya memperlihatkan pertumbuhan aset sekitar 2 persen pada Desember 2023, namun kontribusi bruto dan klaim bruto akan mengalami kontraksi. AASI optimis bahwa aset asuransi jiwa syariah akan meningkat menjadi Rp36 triliun pada Januari 2024, sementara klaim bruto akan naik sekitar 11,3 persen. Namun, kontribusi bruto diperkirakan akan turun sebesar 10 persen.
Untuk asuransi umum syariah,
proyeksi juga menunjukkan pertumbuhan aset sebesar 5,8 persen dengan
peningkatan signifikan pada klaim bruto, tetapi kontribusi bruto akan mengalami
kontraksi. Ia menyoroti faktor-faktor pendorong pertumbuhan seperti stabilitas
sistem keuangan, komitmen pemerintah terhadap nilai tukar rupiah, inflasi yang
terkendali, serta peningkatan kinerja industri asuransi dan dana pensiun.
Namun, dia juga menekankan rendahnya literasi dan penetrasi asuransi syariah
sebagai penghambat pertumbuhan yang perlu diperhatikan bersama-sama oleh semua
pihak terkait.